Cara Budidaya Belut

Belut biasanya dibudidayakan dalam molam lumpur seperti dihabitat aslinya di sawah. Namun perkembangan penelitian budidaya belut menunnjukkan bahwa belut pun bisa di budidayakan tanpa lumpur, seperti yang dilakukan oleh peneliti dari UGM ini. 
Belut dicoba dibesarkan di media tidak lazim: hanya air, bukan campuran lumpur, jerami, dan kompos.Sang peneliti, Ir Ign Hardaningsih MSi, ingin meneliti pertumbuhan belut yang dipelihara di media air. Ia menebar 30 [I]Monopterus albus[/I] di akuarium. Air berasal dari sumur ber pH netral, 7. Agar tidak stres saat dipindah ke media air, belut diadaptasikan terlebih dulu. Caranya, Hardaningsih memuasakan belut-belut itu selama 2 pekan. “Setelah dipuasakan, baru diberi pakan berupa burayak ikan dan ikan kecil lain,” ujarnya. Cacing tanah sebetulnya bisa diberikan, tapi harganya relatif mahal. Lumbricus itu mencapai Rp25.000/kg.


Selain pakan, ketua Laboratorium Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu mengganti air sebulan sekali. Suhu ruangan laboratorium diatur pada kisaran 26—28oC. “Suhu agak hangat karena belut biasa hidup di sawah yang penuh bahan organik terdekomposisi,” katanya. Dekomposisi itu membuat suhu media meningkat. Nah, setelah 4 bulan dipelihara di akuarium, belut-belut itu tumbuh hingga seukuran jempol orang dewasa dan tidak ada satu pun yang mati.

Menurut Ade Sunarma MSi, periset di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi, Jawa Barat,belut berpotensi dikembangkan di media air. “Dengan media air, tingkat kematian dan pertumbuhan belut gampang dicek,” ujar Ade. Dalam budidaya konvensional, peternak mesti membongkar media untuk mengecek. Media air itu juga mengurangi dampak negatif teritorialisme. “Pada media lumpur belut menerapkan teritorialisme —penguasaan wilayah” kata Hardaningsih. Jika ada belut lain yang masuk teritori, pemilik teritori tak segan-segan membunuh penyusup yang mendatangi lubangnya.

Faktor-fator Utama Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih

Beberapa Fator-faktor Utama Yang Harus Kita perhatikan Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih
antara lain :

Air

Dalam Budidaya belut di air bersih, air adalah faktor utama yang sangat berpengaruh pada perkembangan belut. Jika air yang kita gunakan dalam budidaya belut tidak rutin di kontrol maka akan sangat mempengaruhi pada perkembangan belut kita.

Air yang bagaimana yang layak digunakan Budidaya belut air bersih? air yang layak digunakan dalam budidaya belut di air bersih adalah air yang jernih, memiliki suhu antara 25-28 derajat C, air yang tidak mengandung zat-zat kimia berbahaya. Air yang kurang layak/tidak bagus untuk budidaya belut di air bersih air PDAM karena banyak mengandung zat-zat kimia (kaporit), air yang langsung diambil dari sumur bur karena sangat minim kandungan oksigennya dan air limbah.

Usahakan dalam melakukan budidaya belut di air bersih, kolam harus ada sirkulasi air walau dengan debit yang sangat kecil (ada yang masuk dan ada yang keluar). Dengan adanya aliran air kedalam kolam budidaya maka akan menambah kandungan oksigen didalamnya sehingga sangat berpengaruh dalam untuk perkembangan serta pertumbuhan belut dan kita juga tidak terlalu repot untuk penggatian air. Jika kolam budidaya belut tidak ada sirkulasi air dan pembuangan, air akan cepat kotor/keruh, maka kita harus sering mengganti air paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali, tentunya kita akan sangat kerepotan bukan? Jika air sudah kotor/keruh (warna kuning kecoklatan) air harus segera kita ganti. tapi beda dengan kotoran yang mengendap didasar kolam, walau didasar kolam sudah terdapat endapan tapi airnya masih jernih, air masih layak kita gunakan, asal endapannya tidak terlalu tebal.

Pakan

Pakan juga termasuk salah satu faktor yang sangat penting untuk perkembangan serta pertumbuhan belut. Berilah pakan secukup mungkin, usahakan jangan sampai kekurangan atau jangan berlebihan dan berilah pakan yang paling disukai belut, jika dalam pemberian pakan pada belut terlalu banyak bisa mengakibatkan air cepat kotor(karena sisa makanan) dan bisa mengakibatkan effek negatif pada belut, sehingga belut mudah sakit dan lama kelamaan bisa mengakibatkan kematian. Jika pemberian pakan pada belut kurang, maka bisa menimbulkan sifat kanibalisme pada belut kita dan kita juga akan rugi karena pertumbuhannya akan lama. Selama belut masih mau makan dengan pakan tersebut jangan beralih ke pakan yang lain secara total, kecuali belut mau makan dengan pakan yang kita berikan, jika belut tidak mau makan dengan pakan yang kita berikan, kembalilah kepakan yang sebelumnya.

Jenis-jenis pakan belut antara lain:
cacing lor, cacing merah, cacing lumbricus, ikan cere, ikan cithol, ikan guppy, anakan ikan mas, berudu (kecebong), lambung katak, keong mas/sawah, ulat hongkong dan masih banyak yang lainnya.

Bibit

Pemilihan bibit belut berkualitas adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan budi daya belut. Umumnya bibit belut yang ada saat ini sebagian besar masih merupakan hasil tangkapan alam. Karena itu, teknik penangkapan bibit dari alam menentukan kualitas bibit. Bibit yang ditangkap dengan cara alami menggunakan perangkap, seperti bubu, merupakan bibit yang cukup baik karena tidak mengalami perlakuan yang menurunkan kualitasnya. Sebaliknya, bibit yang diperoleh dengan cara tidak baik seperti disetrum bukan termasuk bibit berkualitas. Pasalnya, bibit seperti ini pertumbuhannya tidak akan maksimal (kuntet). Lebih baik lagi jika bibit yang digunakan berasal dari hasil budidaya. Ukurannya akan lebih seragam dan jarang terserang penyakit seperti yang mungkin terjadi pada belut hasil tangkapan alam. Sayangnya, bibit belut hasil budidaya untuk saat ini masih sangat sedikit.

Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan terkait bibit belut yang berkualitas.

1. Bibit yang digunakan sehat dan tidak terdapat bekas luka

Luka pada bibit belut dapat terjadi akibat disetrum, pukulan benda keras, atau perlakuan saat pengangkutan. Umumnya, bibit yang diperoleh dengan cara disetrum cirinya tidak dapat langsung terlihat, tetapi baru diketahui 10 hari kemudian. Salah satu ciri-cirinya terdapat bintik putih seperti garis di permukaan tubuh yang lama-kelamaan akan memerah dan pada bagian dubur berwarna kemerahan. Bibit yang disetrum akan mengalami kerusakan syaraf sehingga pertumbuhannya tidak maksimal.

2. Bibit terlihat lincah dan agresif

Bibit yang yang selalu mendongakan kepalanya keatas dan tubuhnya sudah membalik sebaiknya diambil saja karena belut yang sudah seperti ini sudah tidak sehat dan lama kelamaan bisa mati. belut yang sehat mempunyai ciri-ciri: tenang tapi lincah, belut akan mengambil oksigen keatas dengan cepat kamudian kembali kebawah lagi.

3. Penampilan sehat yang dicirikan, tubuh yang keras dan tidak lemas pada waktu dipegang
pada waktu kita memegang belut tentunya kita akan bisa merasakan keadaannya, bila belut tersebut bila kita pegang tetap diam/lemas atau tidak meronta/tidak ada perlawanan ingin lepas, sebaiknya belut dipisahkan, karena belut belut yang seperti ini kurang sehat. Dan sekaliknya jika kita pegang badannya terasa keras dan selalu meronta ingin lepas dari genggaman tangan kita, belut yang mempunyai ciri seperti ini layak kita budidayakan.

4. Ukuran bibit seragam dan dikarantina terlebih dahulu

Bibit yang dimasukkan ke dalam wadah pembesaran ukurannya harus seragam. Hal ini dilakukan untuk menghindari sifat kanibalisme pada belut. Bibit yang berasal dari tangkapan alam harus disortir dan dikarantina. Tujuannya untuk menghindari serangan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari tempat hidup atau kolam pemeliharaan belut sebelumnya dan untuk pemilihan belut yang sehat dan tidak sehat. Caranya adalah dengan memasukkan bibit belut ke dalam kolam atau bak yang diberi air bersih biarkan belut tenang dulu (kurang lebih 1 jam) kemudian berilah kocokan telur dicampur dengan madu 1 jam kemudian penggantian air dilakukan dan biarkan belut sampai bener-bener tenang diamkan kurang lebih 1 hari 1 malam kemudaian masuk bibit kekolam pembesaraan.

Kepadatan (Volume)

Kepadatan penebaran bibit dalam pembesaran jenis-jenis ikan sangatlah mempengaruhi pada perkembangan pertumbuhan dan tingkat kematian, misal, dalam pembesaran jenis-jenis ikan seperti lele,gurame, nila dll, kalau penebarannya terlalu padat, waktu pembesaran bisa terhambat walau pemberian pakan sudah sesuai dengan ukurannya dan juga bisa mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi.

Namun metode pembesaran Belut di media air bersih ini sangatlah berbeda dengan penebaran bibit jenis-jenis ikan yang lainnya, Kepadatan penebaran bibit belut sangat berperan penting pada pertumbuhan dan tingkat kematian. Kepadatan penebaran bibit belut untuk pertumbuhan, tergantung dalam proses pemberian pakan dan untuk tingkat kematian justru bisa meminimalkannya.
Mempersiapkan Pembesaran

Langkah Awal

Langkah awal untuk melakukan usaha budidaya belut di air bersih adalah memelihara pakan, dalam melakukan usaha budidaya belut,jika kita tidak ingin mengalami kendala terutama masalah pakan dan kita juga akan bisa mengurangi biaya operasional usaha ini, lakukanlah langkah awal ini yaitu 3 atau 4 bulan memelihara pakannya terlebih dahulu sebelum kita menebar bibit belut. Karena selama ini kendala dari para pembudidaya belut baik yang menggunakan media lumpur maupun media air bersih adalah pada pemberian pakan yang tidak menentu karena mereka sebelumnya tidak mempersiapkan pakannya terlebih dahuludan hingga kini pakan yang paling disukai belut adalah pakan dari alam, walaupun sudah ada pembudidaya belut dalam pemberian pakannya menggunakan jenis pelet, namun setelah dihitung-hitung hasil analisa usahanya masih sangat minim,padahal dalam setiap usaha tentunya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih, bukan malah membuang-buang duit atau tenaga kita kan???

Banyak pembudidaya belut yang masih meremehkan hal ini dan akhirnya mereka yang akan kerepotan sendiri karena setiap hari harus mencari pakan buat belut kalau tidak, mereka harus membeli pakannya, sehingga untuk biaya operasionalnya akan semakin membengkak untuk pembelian pakan. Dengan kita memelihara pakan terlebih dahulu insyaALLOH akan mudah menghitung jumlah panen dan analisa usahanya.

Persyaratan Lokasi

Secara klimatologis belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi kolam tidak beracun.
Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-28 derajat C.
Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil.

Belut adalah binatang air yang selalu mengeluarkan lendir dari tubuhnya sebagai mekanisme perlindungan tubuhnya yang sensitif. Lendir yang keluar dari tubuh belut cukup banyak sehingga lama kelamaan bisa mempengaruhi derajad keasaman (pH) air tempat hidupnya. pH air yang dapat diterima oleh belut rata-rata maksimal 7. Jika pH dalam air tempat pembesaran telah melebihi ambang batas toleransi, air harus dinetralkan, dengan cara menggati ataupun mensirkulasikan airnya. Dengan demikian, kolam/tempat pembesaran harus dilengkapi dengan peralatan yang memungkinkan untuk penggantian atau sirkulasi air.

Ada beberapa macam tempat yang dapat digunakan untuk untuk budidaya belut di air bersih (air bening) tanpa lumpur di antaranya: kolam permanen (bak semen), bak plastik, tong (drum).
Dalam Budidaya Belut dengan menggunakan media lumpur dalam wadah/tempat dan ruangan 5X5 meter, hanya bisa dibuat untuk 1 kolam saja berbeda dengan Budidaya belut diair bersih dengan wadah dan Ruangan 5X5 meter, bisa dikembangkanya 3 Kali lipat dari wadah budidaya itu sendiri, karena dalam budidaya air bersih kita hanya memerlukan ketinggian air 30 Cm, maka tempat budiaya kita bisa tingkat menjadi 3 susun atau 3 apartemen.


Sumber : http://hobbysatwa.blogspot.co.id/2013/01/teknik-budidaya-belut-di-air-tanpa.html

PENANGKARAN DAN TEKNIK BUDIDAYA KUPU-KUPU

Kupu-kupu merupakan hewan rapuh nan cantik yang banyak terdapat di Indonesia.  Banyak jenis Kupu-Kupu yang berwarna indah dan menjadi bahan aksesoris dan pajangan.  Seperti di daerah wisata Bantimurung Sulawesi Selatan. Pengambilan kupu-kupu dari alam secara tidak terkendali bisa menyebabkan punahnya jenis kupu-kupu terutama yang dilindungi. Sehingga upaya budidaya atau penangkaran kupu-kupu sebaiknya juga dilakukan.

Budidaya  kupu-kupu sebenarnya tidak berbeda jauh dengan peternakan hewan lainnya; yakni hewan yang dipelihara sampai mencapai ukuran tertentu untuk dimanfaatkan atau dijual. 
Hanya, para penangkar satwa liar indah ini sering merasa adanya unsur seni, apalagi saat menonton kupu-kupu segar menetas dari kepompong dan mengeringkan sayapnya menjelma bagaikan permata terbang.  Tentu, persyaratan menjadi penangkar kupu-kupu akan berbeda dengan persyaratan menjadi peternak hewan besar. Walaupun pekerjaannya dapat dianggap ringan – seratus ekor ulat hanya seberat sebuah jeruk – namun memerlukan tingkat ketelitian/ketekunan yang luar biasa untuk menguasi ilmu penangkaran sehingga menjadi penangkar kupu-kupu yang berhasil dan sukses.


Prasana khusus untuk penangkaran memang ada, dan akan digambarkan secara lengkap dalam buku pedoman ini, namun semua alat dapat diperoleh dengan mudah di tingkat pedesaan, dan peminat bisa mulai dari tingkat hobi sebelum masuk kelas “profesional”. Bahkan penangkar kupu-kupu kecilpun tak akan kalah dengan pengusaha kupu-kupu besar jika teliti dan rapi dalam pelaksanaannya.
Sebelum mulai, perlu dijelaskan kegunaan kupu-kupu, yang pada dasarnya ada dua. Yang pertama yaitu sebagai kupu-kupu mati yang kemudian diopset (diawetkan) untuk menjadi bahan hiasan jenis bingkisan dan segalanya, atau sebagai obyek bagi pakar atau pemuda yang gemari mengoleksi kupu-kupu. Walaupun sebagian besar kupu-kupu untuk kebutuhan ini disediakan melalui penangkapan di alam, namun kupu-kupu yang berasal dari penangkaran akan lebih baik dan mulus serta harga ditentukannya lebih tinggi.
Pasaran yang kedua adalah sebagai kupu-kupu hidup. Seperti halnya dengan burung yang dipelihara dikandang sebagai obyek wisata, kupu-kupu hidup dilepas terbang bebas dalam kandang agar ditonton para tamu, terbang secara alami. Fase kupu-kupu yang diperdagangkan di pasaran ini adalah fase kepompong, dimana kupu-kupu dapat dikirim ke Taman Kupu-kupu tujuannya sambil beristirihat. Tujuan utama penjualan kepompong ini adalah Eropa dan Amerika Serikat, tetapi adapun Taman Kupu-kupu di Singapura, Penang, dan sekarang telah terdapat pula di Tabanan Bali, serta Taman Mini Indonesia Indah.
Walapun demikian, perlu diingat bahwa jalur penjualan kupu-kupu tidak seluas jalur pemasaran kambing atau sapi, misalnya, dan disarankan dicari jalur pemasaran selanjutnya sebelum mulai menangkarkan.
Sampai kini pengetahuan tentang kehidupan kupu-kupu masih terbatas, sehingga yang digambarkan dalam buku pedoman ini dianggap pengenalan saja. Kalau berminat, silahkan coba saja!
DAUR HIDUP
Sebelum mulai bersangkar, perlu kita pelajari beberapa hal dasar tentang kupu-kupu. Kuncinya adalah pengertian tentang daur hidup kupu-kupu, seperti digambarkan dalam Kotak Informasi 1. Yang nampak dengan jelas adalah perbedaan antara anakan (ulat atau 1arva) dengan kupu-kupu dewasa: sang ulat berbentuk bulat lonjong, dengan mata dan kaki sederhana saja; sedangkan sang kupu-kupu dewasa badannya dibagi menjadi tiga bagian: kepala mempunyai mata majemuk, antena, dan lidah panjang; toraks mempunyai enam kaki, dan dua pasang sayap; dan abdomen mempunyai alat kelamin. Perubahan yang terjadi dari ulat sehingga dapat menjadi kupu-kupu disebut metamorfosis sempurna, dan berlangsung selama fase kepompong. Hal ini berbeda dengan metamorfosa tak sempurna (bertahap) dimana anakan selalu mirip serangga dewasa, seperti terjadi pada binatang jangkrik dan belalang.
Telur
Umumnya betina meletakkan telur pada daun pakan ulatnya, atau di dekatnya. Bentuk telur tergantung pada suku kupu-kupu – ada yang bulat, memanjang, berbentuk botol, atau keriput. Setelah sekitar 4-5 hari, menetaslah telur dan keluar seekor ulat yang kemudian makan cangkang telur yang bergizi.
Kepompong
Bentuk kepompong tergantung pada jenis kupu-kupu, namun berbagai suku mempunyai ciri khas dan dapat dibedakan (lihat Kotak Informasi 3). Dalam kepompong terjadilah metamorfosa sempurna, sehingga organ tubuh berkembang dan sayap terbentuk. Masa kepompong juga tergantung pada jenis dan cuaca – dimana jenis yang lebih kecil lebih cepat matang dan lebih cepat menetas di daerah yang lebih panas.
Setelah beberapa waktu (7-30 hari, tergantung jenis kupu-kupu), kulit kepompong akan beruba warnanya, dan kelihatan kupu-kupu terbentuk didalamnya. Biasanya pada pagi hari, kulit kepompong akan robek, dan kupu-kupu dewasa akan keluar.
Kupu-kupu dewasa
Kupu-kupu yang baru menetas akan tetap menggantung dan menunggu sayapnya merentang dan mengeras, dan sementara itu akan membuang kotoran cair Ketika sayapnya sudah keras, ia akan mengepakkannya dan terbang menuju dunia luas. Sayap kupu-kupu dilapisi dengan sisik-sisik kecil, yang kelihatan seperti serbuk jika disentuh. Sisik-sisik ini yang memberikan nama kupu-kupu dalam bahasa Latin - Lepidoptera, yang artinya sayap bersisik.
Kupu-kupu dewasa mempunya lidah (proboscis) yang tergulung dibawah kepala. Karena berbentuk sedotan, lidah cuma dapat dipakai untuk mengisap cairan-cairan – umumnya nektar dari bunga. Selain nektar, kupu-kupu jantan dan betina dapat mengisap sari buah dan getah pohon; sang jantan juga mencari zat garam untuk kebutuhan perkawinan – sumbernya yaitu becek, beton basah, air kencing, maupun bangkai dan kotoran lainnya.
Kupu-kupu dewasa adalah tahap menghasilkan keturunan. Kupu-kupu betina bisa langsung kawin begitu menetas dari kepompong, sedangkan yang jantan biasanya membutuhkan waktu lebih dari tiga hari untuk persiapan. Dalam perkawinan jantan dan betina berpasangan selama berapa jam. Dua atau tiga hari berikutnya yang betina dapat bertelur. Jumlah telur yang ia letakkan bervariasi tergantung jenis – untuk kupu-kupu besar seperti Ornithoptera biasanya satu-dua butir, namun jenis-jenis lain bisa sampai 30 butir per hari. Jumlah total telur bisa mencapai ratusan butir selama masa hidupnya sang betina, yang mana bervariasi antara 10 hari sampai dengan 2 bulan.
POLA-POLA PENANGKARAN
Kupu-kupu adalah satwa liar, dimana sumbernya adalah lingkungan alam tertentu. Untung di alam terdapat banyak pemangsa dan hama. Kenapa? Misalkan tiap induk dapat bertelur sebanyak 200 telur di alam; kalau semua ulat jadi kupu-kupu penglihatan kita jarak pendek saja karena terhalang oleh awan-awan kupu-kupu! Sekarang kita sadar bahwa dua hal paling pokok dalam upaya penangkaran adalah PEMBERIAN PAKAN INANG dan PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT.
Persedian induk
Upaya penangkaran membutuhkan persediaan telur yang subur dan sehat dalam jumlah banyak. Kadang-kadang kita ketemu suatu ekor kupu-kupu yang sedang bertelur kemudian telur dapat dikumpulkan selama beberapa hari di tumbuhan yang sama. Namun, untuk memperoleh telur dalam jumlah yang lebih menentu kita harus memelihara beberapa induk betina sebagai sumber telur.
Salah satu sumber betina adalah dari alam. Kupu-kupu dapat ditangkap dengan mengunakan jaring besar yang dibuat dari kain kasar yang paling halus, atau kain kelambu. Betina dapat ditangkap dekat bunga-bunga yang dikunjunginya, atau pada saat bertelur. Kupu-kupu yang diketemui sedang mengisap air becek di sungai selalu kupu-kupu jantan, yang tentu tidak akan bertelur. Setelah ditangkap, kupu-kupu dimasukkan ke dalam amplop dengan seksama, agar perutnya tidak tertindis; amplop cukup ketat sehingga sayapnya tidak rusak akibat gerakan kupu-kupu. Supaya kupu-kupu lebih tahan di wilayah yang panas, sepotong kapas yang dibasahi air dapat ditaruh da1am amplop. Seketika tiba kembali di penangkaran kupu-kupu dilepas, yang lemah dapat diberikan air gula .
Betina sehat yang ditangkap di alam biasanya bunting; hal ini kelihatan dari perut yang bengkak. Jika kita peroleh induk betina dari hasil penetasan kepompong dia perlu kawin sebelum bertelur supaya te1urnya subur. Untuk itu diusahakan jumlah jantan dan betina dikandang berseimbang – kalau kelebihan jantan baru betina-4etina yang ada akan dikejar terus sehingga stress dan tidak bertelur banyak. Betina yang lebih jinak akan dihasilkan dari penetasan kepompong karya penangkar sendiri.
Seperti dijelaskan di atas, keturunan kupu-kupu yang sudah ditangkar dapat berfungsi sebagai induk juga; jika demikian kita harus waspada menjaga tidak terjadi masalah lemah genetika. Kupu-kupu yang sering ’kawin dalam’ (dengan saudaranya sendiri) akan lemah, kecil, dan mudah kena penyakit. Untuk mencegah tidak terjadi demikian, diusahakan agar sering dimasukkan stock induk baru berupa betina ataupun jantan yang ditangkap dari alam.
Bisa juga dilakukan kawin buatan. Dalam teknik ini kelamin dari jantan dan betina digosok satu sama lain sampai kelamin melekat, kemudian kupu-kupu sepasang dibiarkan bersambung selama beberapa jam sampai perkawinan selesai. Kadang-kadang bisa mempermudahkan proses ini jika kelamin betina dikorek kuku dulu agar lebih terangsang. Teknik kawin buatan ini biasanya dipakai dalam upaya menghasilkan kawin silang antara dua jenis yang berbeda, terutama kupu-kupu besar dari keluarga Papilio atau Troides.
Selain penangkapan kupu-kupu dewasa, kita juga dapat memanfaatkan telur, ulat, dan kepompong dari alam sebagai sumber induk.
Fase Ulat
Fase ulat adalah fase pertumbuhan, dimana badannya dapat berkembang sebanyak 200 kali sejak menetas dari telur sampai masuk fase kepompong. Karena diletakan pada pakannya langsung, ulat tidak perlu berjalan jauh, cukup melekat pada daun dan batang pakan inang dengan mengunakan kaki sederhana dan kaki semu. Rahang ulat yang keras dipakai untuk mengunyah daun pakannya, dan sebagian besar isi badannya terdiri dari usus. Makanannya adalah daun tumbuhan yang spesifik bagi tiap jenis kupu-kupu, dan ulat-ulat tidak akan makan sembarang daun.
Selama masa berkembangnya, ulat akan mengganti kulitnya empat kali, kulit bekas akan dimakan karena mangandung zat-zat penting. Tiap tingkat pertumbuhan.dinamakan instar.
Lamanya fase ulat sangat tergantung pada jenis kupu-kupu, serta cuaca; berkisar antara 7- 40 hari atau lebih. Setelah cukup besar, ulat akan mencari tempat yang aman untuk beristirihat, dan akan mengantungkan diri menggunakan beberapa benang sutera, kemudian mengganti kulit menjadi kepompong (krysalis/pupa).
Pengelolaan telur
Adapun beberapa cara memperoleh telur dari kupu-kupu betina yang bunting.
Secara alami – dimana kupu-kupu dilepaskan ke dalam kandang agar dia bisa terbang, minum, dan bertelur seperti di alam. Pada prinsipnya kandang yang semakin besar semakin baik, tetapi kandang berukuran 5 meter panjang, 3 meter lebar, dan 2,5-3 meter tinggi akan cukup bagai kebanyakan jenis kupu-kupu. Tiang kandang dibuat dari pipa, kayu balok, atau kayu bulat. Bahan dinding yang terbaik adalah kain khasar hitam seperti umum dipakai petani untuk jemur coklat, atau peternak ikan. Kain ini akan tahan tiga tahun atau lebih, dibandingkan dengan kawat yang tidak akan tahan sampai dua tahun, dan lagi mahal.
Isi kandang ditanami pohon sampai suasana rimbun, dengan adanya banyak bunga sebagai tempat isap kupu-kupu dewasa. Bunga yang cocok adalah kumis kucing (Orthosiphon sp), Tembelekan (Lantana camara),dll. Penting sekali ada sumber air dekat karena kupu- kupu akan lebih tahan jika kandang tetap lembab – sebaiknya kandang disiram sekali sehari.
Letak kandang sebaiknya supaya kandang kena matahari pada pagi hari, tetapi ada juga tempat sombar menjelma panas siang; tidak kena angin keras; dan tidak dapat dicemari pestisida. Untuk mencegah masalah hama usahakan tidak ada celah supaya tikus, kadal, dan cicak tidak bisa masuk dan hindari tempat banyak semut merah (’laga’). Di perusahan penangkaran kupu-kupu besar, dasar kandang dilantai beton, dengan ada parit air sekililingnya untuk menghindari serangan semut. Bagi penangkar tingkat desa bangunan seperti ini hanya akan merepotkan dan sangat mahal.
Sang betina biasannya meletakkan telur pagi atau sore hari langsung pada tumbuhan pakan inang yang lunak atau segar. Agar mudah mengumpulkan telurnya nanti, sebaiknya ditnaruh satu pohon tumbuhan saja; pohon ini dapat disediakan dalam polibag atau ditanam langsung. Jika kupu-kupu tidak bertelur pada pohon teresbut, dapat dicoba di beberapa tempat, ataupun diangkat lebih tinggi, sampai diketemukan kesukaan kupu-kupu yang diminati. Dalam keadaan begini, diusahakan kumpulkan semua telur minimal dua kali sehari untuk mengurangi serangan parasit. Kalau ada waktu, paling baik tiap tiga jam.
Kadang-kadang kita akan ketemu kupu-kupu yang tidak suka bertelur di kandang biarpun sudah berapa ekor diuji. Ada dua cara untuk mengatasi masalah ini. Induk dapat disimpan ke dalam jaringan kecil yang penuh dengan potongan-potongan daun pakan inang sehingga terpaksa dia injak-injak daun tersebut dan terangsang untuk bertelur. Lebih baik lagi simpan beberapa ekor induk yang akan saling menganggu sehingga lebih sering injak pakan inang dan upaya kita lebih berhasil. Satu cara yang mirip adalah jika induk bersama sepotong daun inang ditutup dalam tas plastik bening. Dalam kedua kasus ini, induk betina mesti diberikan minumnn tambahan berupa air gula (lihat Kotak Informasi X) dua kali sehari.
Telur yang diperoleh boleh diambil sendiri-sendiri atau bersama dengan sepotong daun dimana telur diletakkan. Kemudian dapat disimpan dalam kotak keci1, dan simpan ditempat yang aman dari gangguan semut atau hama lain, dan tidak kena ca4aya mata4ari langsung. Ketika ulat menetas setelah 5-12 hari berikan waktu untuk makan kulit telurnya, kemudian dapat diangkat secara seksama dengan memakai kuas halus, atau sepotong daun inang yang lunak.
Pemeliharaan ulat (larva)
Dasar pemeliharaan ulat selanjutnya yaitu memberikan pakan berupa daun inang yang segar dalam jumlah yang cukup, menjamin kebersihan dan kesehatan, dan menjaga agar tidak terjadi serangan hama yang dapat menghabisi ulat-ulat peliharaan. Dibawah ini digambarkan beberapa cara untuk memelihara ulat, yang dapat disesuaikan 6engan kebutuhan masing-masing jenis kupu-kupu yang ditangkar.
I Alamiah
Dimana tidak terdapat banyak hama atau parasit ulat kupu-kupu, cukup ditanam pakan inang seoara berkelebihan di halaman rumah peternak atau dalam kandangnya. Sumber telur adalah induk kupu-kupu yang ada di lingkungan sekitar, atau yang terbang bebas di dalam kandang. Kegiatan peternak yaitu pengamatan secara periodik untuk mengatasi masalah-masalah yang munoul, kemudian mengambil kepompong ketika suda4 siap dipanen.
Teknik penangkaran tanpa sangkar ini, yang sering disebut ’ranching’, kurang cocok untuk kebutuhan kepompong hidup karena bisa terjadi infeksi dengan parasit, tetapi lebih baik bagi upaya kupu-kupu mati (spesimen).
II Pembungkus Semi Alamiah
Cara paling sederhana untuk menghindari serangan hama dan parasit yang ganas itu, adalah jikalau sepotong pohon pakan inang dibungkus dengan kain khasa yang halus (XX lubang per senti). Berbentuk sarung, satu ujungnya diikat ketat pada cabang pohon kemudian ujung lainnya diikat setelah ulat diletakkan ke dalamnya. Jumlah ulat tidak perlu banyak, cukup 10 – 20 ekor, sesuai dengan jumlah daun yang tersedia. Tiap 4erapa hari kain dapat dibuka untuk membuang kotoran ulat yang terkumpul. Untuk menghindari hama, sebaiknya daun-daun diperikisa sebelum dibungkus dan dibersihkan dari pemangsa seperti laba-1aba atau semut. Jika bagian cabang pohon dibawah bungkusan dicet dengan oli bekas atau lem tikus, maka semut tidak akan menganggu.
III Pot Pembungkus
Dengan cara ini, tumbuhan yang telah disediakan dalam koker atau pot dibungkus dengan kain halus. Sebaiknya kain tidak menyentuh tumbuhan di dalamnya, karena gigitan tikus dan kadal dapat tembus! Pot yang dibungkus bisa berdiri dalam bak air atau oli untuk mencegah serangan semut, ataupun digantung untuk menghemat tempat.
Sama hal dengan cara diatas, sebaiknya ulat tidak terlalu padat. Kalau persediaan daun akan habis, ulat bisa dipindahkan ke pot baru, yang kemudian dibungkus lagi. Keuntungan dengan memakai kedua cara tersebut diatas yaitu penangkar tidak terlalu repot menyediakan daun segar, namun persediaay tumbuhan dalam pot harus cukup banyak.
IV Kotak Pemeliharaan
Pola penangkaran ini lebih intensif, dan perlu lebih banyak perhatian penangkar. Pakan ulat berupa kokeran atau potongan-potongan daun diletakkan dalam kotak pemeliharaan, kemudian dimasukkan ulat. Daun yang disediakan harus segar, bersih, dan bebas dari hama. Jika ranting ditancap ke dalam air daun akan lebih tahan, namun perlu dicegah agar ulat tidak turun dan tenggelam di dalam air. Daun yang layuh perlu diganti, biasanya sekali sehari, agar ulat selalu dapat makanan yang segar; kalau hal ini tidak diperhatikan ulat akan kelaparan sehingga kepompong yang dihasilkan kerdil dan tidak laku dijua1.
Dasar kotak sebaiknya dilapisi dengan kertas koran, agar kotoran keras dan encer dapat dibuang tiap hari. Bagaimanapun, kebersihan harus diutamakan demi upaya mencegah penyakit virus atau bakteri. Setiap selasai dipelihara satu generasi, sebaiknya kotak dikosongkan, kemudian dicuci dengan larutan pemutih (Bayklin).
Kotak pemiliharaan ini tidak boleh kena sinar matahari 1angsung. Kalau terlalu panas bisa dispoit embun air bersih dengan memakai sprayer yang khusus (jangan yang bekas dipakai untuk pestisida!) asal ulat tidak disiram basah-basah.
Kentungan memakai sistem ini adalah bahwa pakan dapat diambil dari alam jika belum cukup persediaan peternak sendiri; kerugiannya adalah menyita waktu untuk penggantian daun tiap hari. Tidak semua jenis ulat bisa terima pakan yang dipotong.
V Kotak Plastik
Jika sepotong daun diletakkan ke dalam kotak plastik yang kemudian ditutup rapat, daun itu akan tahan segar beberapa hari. Hal ini dapat dimanfaatkan jika diisi pula satu atau beberapa ekor ulat, yang kemudian cuma perlu perhatian jika daun sudah mulai habis. Kebersihan sangat penting – dasar kotak harus dialas dengan kertas tisu atau kertas koran untuk menyerap kelembaban, dnn kertas diganti tiap hari. Suatu para-para kecil dapat berfungsi untuk mengangkat ulat dari dasar kotak sehingga tidak kena kotoran yang ada. Penting sekali kotak plastik tidak ditaruh di cahaya mata hari karena ulat akan cepat mati kepanasan.
Tidak semua jenis dapat ditangkar dengan perilaku ini, namun polanya dapat dijadikan pedoman dalam upaya mengamati perkembangan ulat bagi kupu-kupu yang baru ditemukan, dan pakannya sangat terbatas. Bermanfaat juga bagi ulat yang baru menetas, dirawat sampai cukup besar untuk terima perilaku lainnya.
Masa Kepompong
Ulat yang sudah cukup besar akan merubah menjadi kepompong. Ulat tersebut akan berhenti makan beberapa waktu, kemudian berjalan sekeliling kandangnya mencari tempat cocok untuk bergantung. Untuk itu dapat disediakan potongan ranting-ranting. Cara mengantung yaitu dengan ikatan sutra pada ujung pantat, dan juga ikatan dada untuk ulat jenis Papilionidae.
Setelah bergantung 1-2 hari, ulat untuk terakhir kali ganti kulit menjadi kepompong. Kepompong dibiarkan mengeras beberapa waktu, kemudian dapat dipetik. Bukan semua kepompong akan jadi sempurna: kepompong yang baik adalah yang besar, segar, dengan warna baik; kepompong yang hidup bisa bergerak kalau dikorek. Kepompong yang tidak baik adalah yang kerdil, bernoda hitam, mengeluarkan cairan, luka atau bengkok, berbau, berjamur, atau memanjang perut. Peternak sendiri dengan cepat dapat mengetahui hal ini jika melakukan penetasan pada kepompong yang dihasilkan.
Dapat disaksikan bahwa warna kepompong jenis Papilio bervariasi antara hijau dan coklat. Hal ini bukan dampak kelamin atau jenis, malahan tergantung pada posisi letak kepompong – jika pada bahan yang halus kepompong akan hijau, jika pada bahan yang kasar maka coklat kepompongnya.